27 Mei 2013



MASUKNYA SYARIKAT ISLAM
            Pada tahun 1920 melalui Makmur Lubis yang diutus pimpinan Syarikat Islam (SI) H.O.S. Tjokroaminoto datang di Bolaang Mongondow membuka cabangnya yang berpusat di desa Molinow. Masuknya SI di Bolaang Mongondow disamping menumbuhkan rasa kebanggaan dan keIslaman di kalangan masyarakat Bolaang Mongondow yang sudah mayoritas beragama Islam dan meringkuk dibawah tekanan pemerintah penjajah Belanda telah pula dimanfaatkan tokoh-tokoh Islam waktu itu untuk mengimbangi pengaruh pendidikan Zending yang mereka anggap dapat melemahkan syiar Islam yang sudah dianut mayoritas penduduk Bolaang Mongondow. Maka muncullah pimpinan SI putera daerah asli kelahiran desa Molinow yang sangat disegani kawan dan lawan bernama Adampe Dolot. Adampe Dolot segera mengajukan permohonan kepada Konterleur untuk membuka sekolah-sekolah seperti yang telah dikerjakan Zending, tetapi baik Konterleur di Kotamobagu maupun Residen di Manado sama-sama menolak dengan alasan bahwa izin semacam telah diberikan kepada Zending.
            Untuk itu maka ketua SI Adampe Dolot berangkat ke Jakarta dengan bantuan penuh A.P. Mokoginta (ayah kandung Letjen A.J. Mokoginta) yang telah lebih dahulu disingkirkan Belanda karena dicurigai menanamkan jiwa kebangsaan di Bolaang Mongondow untuk menuju Indonesia merdeka. Dengan bantuan penuh A.P. Mokoginta, Adampe Dolot langsung menghadap dan mengajukan permohonan kepada Departemen Van Onderwijs En Eredenst atau sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sekarang ini dan permohonan mereka dikabulkan untuk membuka sekolah-sekolah Islam di Bolaang Mongondow.
            Maka sejak tahun 1926 di daerah Bolaang Mongondow terdapat 2 (dua) organisasi keagamaan yang mengelola persekolahan yaitu Zending dan PSII. Sementara itu pengaruh Syarikat Islam makin meluas di seluruh kerajaan Bolaang Mongondow. Walaupun menjadi anggota SI yang kemudian menjadi PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) melalui bai’at dan sumpah yang cukup berat namun anggota-anggota PSII terus bertambah di bawah kepemimpinan Adampe Dolot.
            PSII tidak hanya bergerak dibidang politik dan pendidikan tapi bergerak pula dibidang ekonomi serta sosial budaya. Maka didirikanlah gedung-gedung sekolah dan balai pertemuan umum, sementara itu ditiap desa atau ranting didirikan semacam koperasi yang bernama Hajannatullah.
            Anggota-anggota yang sudah di bai’at disamping setia membayar uang iuran tak segan-segan mewakafkan sebagian harta kekayaannya berupa sawah, ladang, kelapa, perkebunan kopi dan ternak seperti sapi dan kerbau. Karena keuangan PSII semakin kuat maka Pimpinan Pusat PSII telah mengabulkan permohonan Pimpinan Cabang PSII Bolaang Mongondow untuk mengirimkan beberapa orang guru dari Jawa antara lain Mohamad Safii Wirakusuma, Mohamad Djajuli Kartawinata, R. Ahmad Hardjodiwirjo, Sukirman, Soemardjo Soerjopranoto ditambah Ali Bahmid dari Manado, Oesman Hadjoe dari Gorontalo dan Mohamad Tahir dari Sangihe talaud. Dengan datangnya guru-guru tersebut maka didirikanlah beberapa sekolah asuhan PSII yang disebut BPPI (Balai Pendidikan dan Pengajaran Islam) sebagai upaya mengimbangi pengaruh pendidikan Zending yang semakin meluas di Bolaang Mongondow.
            Pada tanggal 28 Juni 1928 terjadi timbang terima Raja kerajaan Bolaang Mongondow dari Raja D.C. Manopo kepada Raja Laurence Cornelius Manoppo yang terkenal dengan panggilan Raja L.C. Manoppo. Rupanya pergantian pucuk pimpinan kerajaan tidak mempengaruhi kebijaksanaan Sang Raja untuk memberikan perlindungan dan bantuan terhadap syiar Islam. Raja L.C.Manoppo pun aktif membantu kegiatan-kegiatan dakwah dan pendirian sekolah-sekolah Islam oleh PSII. Keadaan ini menjadi perhatian Pendeta Dunnebier yang sudah mulai cemas melihat perkembangan agama Islam yang demikian pesat. Hal ini tercermin atas suatu tawaran yang disampaikan Pendeta Dunnebier kepada Raja L.C.Manopo agar diseluruh kerajaan Bolaang Mongondow cukup dibangun 1 gereja besar dan 1 masjid besar dan mengenai biaya pembangunan sepenuhnya ditanggung pemerintah. Tawaran itu ditolak oleh Raja L.C.Manoppo bahkan Raja sangat marah dan menuduh Pendeta Dunnebier mencampuri urusan Raja.

MUHAMMADIYAH
            Pada tahun 1931 Organisasi Islam bernama Muhamadiyah membuka cabangnya di Bolaang Mongondow dan berkedudukan di Passi. Kehadiran Muhamadiyah ini telah lebih memperkuat barisan dakwah Islam di seluruh kerajaan Bolaang Mongondow. Sementara Raja L.C. Manoppo tidak tinggal diam dan selalu mengadakan hubungan dengan KH. Mohamad Arsyad Tawil guru besar pada Pesantren di Manado. Hal serupa dilakukan pula Raja Datunsolang dari Bintauna untuk selalu mengambil kesempatan mendapatkan bimbingan dari KH. Mohamad Arsyad Tawil.
            KH. Mohamad Aryad Tawil sebenarnya adalah seorang pengikut Pangeran Diponegoro asal Banten dan sewaktu dibuang ke Manado ia manfaatkan membuka pesantren yang banyak mencetak kader-kader Islam dari daerah-daerah Sulawesi Utara dan Tengah.
            Untuk mengimbangi sekolah H.I.S yaitu Sekolah Dasar 7 tahun dengan mendapat pelajaran bahasa Belanda yang khusus anak-anak pejabat, anak-anak Kristen dan anak-anak keturunan bangsawan serta tidak menerima anak-anak orang Islam yang bukan keturunan bangsawan atau anak pejabat walaupun orang tuanya tergolong mampu. Maka pada tahun 1937 PSII membuka pula sekolah guru KWEEKSCHOOL di Molinow.
            Dengan dibukanya HIS dan Kweekschool maka anak-anak kampung dan anak-anak rakyat jelata yang memasuki sekolah tersebut telah pula dapat berbahasa Belanda seperti anak-anak tamatan HIS Zending. Sedangkan yang lepasan Kweekschool diangkat menjadi guru-guru pada SD BPPI yang sudah banyak tersebar diseluruh wilayah kerajaan Bolaang Mongondow. Dengan demikian tenaga guru-guru untuk SD BPPI tidak lagi tergantung pada tenaga guru yang didatangkan dari Jawa.
            Salah satu kerja sama yang sangat baik rakyat desa Molinow waktu itu ialah bergotong royong membiayai anak-anak yang otaknya mampu untuk melanjutkan pelajaran di Jawa.
            Pada tahun 1931 seorang santri kelahiran desa Motoboi Kecil bernama Abdul Latif Paputungan karena telah menyelesaikan pelajaran pada pesantren di Manado asuhan KH. Mohamad Aryad Tawil berangkat ke Jakarta melanjutkan pendidikan Islam pada Perguruan ISLAM JAMIAT HACA, suatu perguruan Islam yang langsung mendapat pembinaan dari Qairo Mesir. Setelah selesai mengikuti pendidikan pada Perguruan Islam Jamiat Haca maka pada tahun 1941 Abdul Latif Paputungan kembali ke Bolaang Mongondow dan langsung aktif memberikan pelajaran agama Islam baik melalui kursus-kursus maupun melalui khotbah-khotbah serta dakwah dan kegiatannya itu mendapat bantuan moril dari mantan Raja L.C.Manoppo yang walaupun telah meletakkan jabatannya pada tahun 1940 namun masih tetap diagungkan rakyat dengan sebutan Raja Tua yang berwibawa dan disegani.
            Namun selama pendudukan Jepang tahun 1942-1945 tidak banyak yang dapat dibuat oleh para mubalig  untuk mengembangkan syiar Islam karena Bolaang Mongondow turut dilanda Perang Dunia ke II.
            Barulah pada masa pemerintahan Raja H.J.C.Manoppo maka pada tahun 1947 dibukalah Kursus Pendidikan Guru Islam di desa Poyowa Besar di bawah pimpinan KH. Abdul Latif Paputungan dan Ustadz Podu sebagai upaya pengadaan guru-guru Islam pada sekolah-sekolah Islam tingkat Madrasah Ibtidaiyah yang akan dibuka.
            Setelah kursus kilat Pendidikan Guru Islam berhasil mencetak sejumlah calon guru, maka oleh Raja H.J.C.Manoppo didirikan 9 Madrasah Ibtidaiyah Kekadian, masing-masing: di Motoboi Besar, Gang Mawar Kotamobagu, Passi, Inobonto, Kotabunan, Motandoi, Pinolosian,  Kobo’ Kecil dan Poyowa Besar.
            Kehadiran Madrasah-madrasah ini berhasil mengisi kekosongan kegiatan pendidikan Islam sebagai akibat terhentinya kegiatan-kegiatan sekolah BPPI asuhan PSII yang terhenti karena meletusnya Perang Dunia II. Hal ini disebabkan semua sekolah swasta baik yang berada dibawah asuhan Zending maupun asuhan PSII oleh pendudukan Jepang semuanya dinegerikan dengan memasukkan bahasa Jepang.
            Akan tetapi pada tanggal 1 Juli 1950 dimana Raja Bolaang Mongondow yang terakhir H.J.C.Manoppo mengundurkan diri sebagai memenuhi tuntutan rakyat yang disponsori PSII untuk dihapuskannya sistem kerajaan di Bolaang Mongondow. Akibatnya Madrasah-madrasah Ibtidaiyah bentukan Raja H.J.C.Manoppo turut bubar, namun walaupun telah bubar tetapi telah berhasil mencetak ratusan santri sebagai kader-kader Islam saat itu.
            Oleh PSII segera mengisi kekosongan pendidikan Islam ini dengan segera mendirikan Sekolah Menengah Islam (SMI) di Molinow dan kembali mengaktipkan BPPI yang seluruhnya berjumlah 15 BPPI tersebar di kecamatan-kecamatan se-kabupaten Bolaang Mongon-dow dengan menggunakan tenaga-tenaga guru antara lain hasil pendidikan kursus kilat guru Islam masa pemerintahan Raja H.J.C.Manoppo.
            Sebagai pengaruh persiapan pelaksanaan Pemilihan Umum yang pertama tahun 1955 maka di Bolaang Mongondow terdapat 2 partai Islam yang besar masing-masing Partai Masyumi dan PSII. Kedua partai Islam ini disamping menjalankan program Partai mencari anggota sebanyak-banyaknya agar menang dalam Pemilu maka kedua Partai itu giat pula mengadakan dakwah-dakwah untuk memajukan syariat Islam.
            Orde Baru sebagai tatanan  kembali kepada pelaksanaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekwen telah pula berhasil merobah sikap mental manusia Indonesia yang pada umumnya adalah orang-orang beragama yang percaya akan kebenaran Tuhan Yang Maha Esa.
            Pada tahun 1965 sebagai tanda kebesaran rakyat atas keberhasilan Pemerintah Orde Baru di bawah kepemimpinan Nasional Bapak Presiden Jenderal TNI Soeharto menyelematkan bangsa dan negara dari bahaya laten PKI yang anti Tuhan, maka dimana-mana nampaklah meningkatnya kegiatan umat Islam melaksanakan ibadah maupun dalam usaha membangun rumah-rumah ibadah.
Beberapa desa mulai membangun masjid yang baru antara lain terdapat dua masjid yang agak besar dan merupakan masjid terbagus di Bolaang Mongondow masa itu yaitu Masjid Almunawar di desa Molinow dan masjid D.C.Manoppo di desa Matali. Sementara itu Bupati Oemaroedin Nini Mokoagow pada tahun 1967 mulai mencanangkan dimulainya pembangunan masjid Djami’ Kotamobagu yang baru dapat diselesaikan oleh Bupati KDH Tkt II Bolaang Mongondow yang ke X Drs.H.J.A. Damopolii. Sedangkan pimpinan PSII Adampe Dolot yang berjasa besar dalam pengembangan pendidikan Islam di Bolaang Monngondow yang anti  penjajah Belanda hingga oleh Belanda dibuang ke Sukamiskin Jawa Barat dan hingga kini tak diketahui kuburannya, telah diabadikan oleh Bupati Oe.N.Mokoagow dengan pemberian nama jalan Adampe Dolot mulai dipertigaan kelurahan Molinow hingga batas kelurahan Mogolaing dan kelurahan Kotamobagu.
            Untuk pertama kali dalam sejarah Islam di Bolaang Mongondow tepatnya pada tahun 1969 Bupati O.N. Mokoagow menyelenggarakan MTQ tingkat kabupaten Bolaang Mongondow dimana Qori dan Qoriah yang dimenangkan Hi. Mudatsir Hajibode dan Hj. Sumiati Mongilong masing-masing mendapat Kotum haji dan keduanya menunaikan Rukun Islam yang kelima tahun ini juga.
            Sesudah berakhirnya pergolakan Permesta maka pada tahun 1961 oleh Bupati D.L.Olii dibentuk panitia tetap Hari-hari Besar Islam (PHBI) kabupaten Bolaang Mongondow dan sebagai ketua PHBI pertama adalah Haji Arsyad B. Damopolii, maka mulai  saat itu penyelenggaraan sholat Idil Fitri, Idil Adha, Maulid dan Mi’raj Nabi ditangani langsung oleh PHBI dan PHBI pulalah yang memprakarsai pelaksanaan sholat Idil Fitri  dan sholat Idil Adha diselenggarakan di lapangan Kotamobagu, yang diikuti umat Islam dari desa-desa Kotamobagu, Biga’, Gogagoman, Mogolaing dan Kotobangon serta umat Islam dari desa-desa lain  yang berkesempatan sholat bersama di lapangan Kotamobagu.
Menjelang hari raya Idul Fitri dan Idil Adha mulai diadakan pawai takbir dengan kendaraan bermotor. Disisi lain melalui kordinasi Kantor Departemen Agama sepanjang bulan suci Ramadhan diadakan pengajian Al Qur’ an di rumah jabatan bupati kepala daerah. Selain itu melalui kepala staf urusan haji yang diangkat oleh bupati kepala daerah mulailah diadakah upacara pelepasan dan penerimaan kembali jamaah haji asal Bolaang Mongondow setiap tahun.
Sampai dengan tahun 1971 Partai-partai Islam di Bolaang Mongondow masing-masing partai syarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) dan Partai Nahdlatul Ulama (NU) dalam kegiatannya disamping aktif dibidang politik maka senantiasa bersama-sama memajukan dakwah kepada umat Islam pada umumnya dan umat Islam yang menjadi anggota pada partai masing-masing. Disamping itu peranan Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah non politik sangat menonjol dalam mewarnai kegiatan umat Islam di Bolaang Mongondow.
            Untuk pertama kali pada tahun 1971 daerah Bolaang Mongondow yang waktu itu dibawa kepemimpinan Bupati Mokoagow mendapat bantuan Presiden untuk sarana pendidikan Islam sebesar Rp. 7.500.000.- Dengan modal Banpres tersebut ditambah swadaya masyarakat berhasil membangun 1 unit Gedung Pendidikan Islam  yang dibangun di atas tanah wakaf Kiyai Haji A.L. Paputungan seluas 1,5 hektar diujung kelurahan Motoboi kecil Kecamatan Kotamobagu  yang saat Pondok Pesantren Yayasan Darul Ulum.   Dan sejak tahun 1990-an mulai pula dibangun rumah sakit Islam Bolaang Mongondow.
            Itulah beberapa perkembangan terakhir Islam di Bolaang Mongondow yang memilih sektor pendidikan sebagai upaya penguatan Islam di Bolaang Mongondow. 

  
ISLAM DI MANADO
            Seperti halnya dengan daerah lainnya di Sulawesi Utara, menurut KH. Arifin Assegaf, masuknya Islam di Manado kurang memiliki data-data yang akurat sehingga data yang dijadikan rujukan hanyalah bersumberkan dari tulisan-tulisan peminat atau peneliti yang diambil, ataupun juga bersumber dari informasi-informasi yang terpisah-pisah periwatannya. Tulisan H.M. Taulu (yang ditulisanya dalam rangka pelaksanaan MTQ X tahun 1977 di Manado) merupakan sumber informasi yang relatif paling beralasan untuk menjadi rujukan penulisan masuknya Islam di Sulawesi Utara, di Manado khususnya.

Cara Penyebaran Islam      
            Dapat dikatakan bahwa cara atau jalan masuknya Islam ke Manado, disepakati melalui para pedagang dan nelayan yang memasuki kawasan Sulawesi Utara dan khususnya Manado. Kami sering menggunakan istilah masuknya Islam ke Manado ini secara “kebetulan”, karena dia datang bersamaan dengan datangnya para pedagang dan nelayan yang tujuan ke Manado untuk berdagang atau menangkap ikan, bukan untuk menyebarkan agama. Hanya saja, karena Islam adalah agama fitrah, maka setiap penganutnya merasa berkewajiban untuk menyampaikan sesuatu yang fitrah ini kepada sesamanya. Yang perlu dicatat bahwa tersebarnya Islam pada tahap ini baru merupakan penyebaran yang bersifat ritual belaka. Rakyat diajarkan mengenal huruf Al Qur’an untuk bisa membaca Al Qur’an, Shalat, Puasa dan lain-lain amal berupa zikir dan doa. Pendidikan yang ritual ini tentu hanya dapat sampai pada taraf kemampuan maksimal dari para pedagang dan nelayan ini.
            Bila kita perhatikan bahwa Islam telah dikenal di Maluku Utara (Ternate dan sekitarnya) pada abad ke-XV, tepatnya setelah kolano Kaicili Gapi Boguno yang memerintah pada tahun 1456-1486 memeluk agama Islam (H.M.Taulu), dan Islam dikenal dan dianut di Gorontalo pada abad ke XVI, tepatnya setelah diterima oleh Raja Amai yang memerintah pada tahun 1523-1550, sebagai agamanya (Richard Tacco dalam “Het Volk van Gorontalo”  dalam H.M.Taulu, 1977) serta data bahwa Manado telah menjadi bagian dari Kesultanan Ternate sejak 1609 (hasil penelitian Admiral Franqois Wittert), maka dapat dipastikan atau diperkirakan masuknya Islam di wilayah Manado pada awal abad ke-XVI oleh para pedagang dan nelayan dari Ternate dan Gorontalo.
            Sejak pemerintah Babullah, Sultan Ternate dan pemerintah Raja Matolodula Kiki, Raja Gorontalo, maka sejak pertengahan abad ke-XVI, agama Islam dimasyarakatkan di daerah Manado sebagai suatu misi suci. Sultan Babullah yang militan, serta Raja Matolodula Kiki sebagai pemimpin pemerintahan Islam (Kerajaan Islam), dengan diproklamasikannya agama Islam sebagai agama resmi pada tahun 1563 di Kerajaan Gorontalo, maka setiap anggota masyarakat dari kedua kerajaan dan kesultanan ini akan diwarnani oleh pola pikir dan pola hidup yang islami dimanapun mereka berada. Sehingga penyebaran Islam menjadi lebih terpolakan sebagai misi yang suci. Walaupun demikian penyebarannya baru terbatas pada Islam yang ritual.



Islam yang Idiologis
            Islam yang idiologis mulai dikenal oleh masyarakat Manado dengan berdatangannya para buangan politik ke daerah Sulawesi Utara. Dibuangnya Imam Bonjol tahun 1825 di desa Lotak-Pineleng secara tidak langsung telah menambah khasanah Islam bagi para pemeluknya di Manado, bahwa Islam adalah agama perjuangan menentang penjajah. Penampilan Imam Bonjol yang ulama telah mulai merobah pola pikir masyarakat yang tadinya ritual menjadi Idiologis.
            Buangan Pangeran Diponegoro yang tiba di Sulawesi Utara lima tahun kemudian di Kema pada tahun 1830 yang kemudian menetap di lembah Tondano pada tahun 1832, telah membuka wawasan keislaman masyarakat Manado. Saling kunjung pada upacara-upacara keislaman seperti Maulid Nabi yang diperingati secara besar-besaran dan meriah di Tondano (Kampung Jawa), adalah sumber inspirasi yang sangat utama bagi wawasan Islam sebagai suatu idiologi. Semangat keislaman dapat lebih berinteraksi dengan penganut Islam Ternate, Gorontalo, Bugis dan lain-lain pendatang dari Jawa, Sumatera dan Kalimantan (Borneo).
            Buangan dari Palembang, Raden Syarif Abdullah bin Umar Assagaf pada tahun 1880 ke Manado dan kemudian Tondano, telah memperbaharui semangat pemeluk Islam Manado dan sekitarnya. R.S.Abdullah bin Umar Assagaf yang ulama, ahli pencak silat, telah menjadikan peringatan Maulid Nabi setiap tahun di Kampung Jawa Tondano, pusat pertemuan dari umat Islam Manado dan Minahasa. Berkumpulnya pendatang dari Manado dan Minahasa setiap tahun menambah khasanah serta menambah wawasan Islam bagi pemeluknya.
            Sampai pada tahap ini, pendidikan Islam hanyalah berupa pertemuan-pertemuan kelompok-kelompok pengajian. Akibat psikologis terhadap kelompok masyarakat yang tertindas, orang buangan maupun kemudian timbul di daerah Kerajaan Gorontalo, akibat tekanan kolonial Belanda dan pembubaran Kerajaan Islam Gorontalo tahun 1889 (Ibrahim Polontalo, 1998), timbulnya gerakan-gerakan kebatinan berupa beraneka corak Tarekat yang sering menyimpang dari ajaran prinsip Islam, maka oleh R.S.Abdullah bin Umar Assagaf, diupayakan pendidikan dan pelajaran Islam walaupun dalam bentuk-bentuk yang non formal serta dakwah-dakwah keagamaan terhadap setiap pengunjung yang datang ke Kampung Jawa Tondano dari Manado. Kegiatan beliau banyak memperoleh bantuan dari para pengikut Kiay Mojo karena beliau mengawini salah seorang putri dari keturunan Kiay mojo,  R.R. Rolia Suratinoyo.
            Perlu dicatat bahwa informasi yang berasal dari penulisan H.M.Taulu bahwa R.S. Abdullah bin Umar Assagaf adalah pengiring dari Sultan Najamudin II, adalah keliru. Sultan Najamudin II menurut tulisan tersebut meninggal pada tahun 1844, sedangkan R.S. Abdullah bin Umar Assagaf baru dibuang dari Palembang ke Manado kemudian ke Tondano pada tahun 1880, dengan surat keputusan Gubernur Jenderal Buitensirg tanggal 31 Oktober 1880. Kekeliruan ini terjadi mungkin karena adanya pembuangan para pemberontak dari Palembang ke Ternate pada awal abad ke XIX, yaitu Sultan Badaruddin II, dan Sultan Badaruddin II adalah nenek dari R.S.Abdullah bin Umar Assagaf, yang lahir di Ternate pada masa pembuangan Sultan Badaruddin II. Ibu dari R.S Abudullah bin Umar Assagaf adalah Raden Ayu Azuma, putri Sultan Badaruddin II. Banyak partisipasi yang diperoleh ummat Islam Manado dari para buangan di Tondano, diantaranya dalam rehabilitasi dan renovasi ke dua Masjid pertama, Fathul Awwal Mubin Kampung Islam dan Mesjid Masyhur wilayah Istiqlal sekarang.
            Perkembangan Islam di kota Manado tidak bisa dilepaskan dari pengaruh-pengaruh masuknya Islam ke daerah Gorontalo dan Minahasa yang berlangsung sejak tahun 1590 di Belang Ponosokan sampai pada tahun 1888 di Airmadidi.
            Para pekerja yang didatangkan oleh belanda dari Ternate dan Makassar ke Manado, yang oleh T.J. Bezemer (Taulu, 1977) pada tahun 1684 telah bertemu dengan Islam yang diperkenalkan oleh para nelayan Maluku Utara (Tidore) dan para pedagang Bugis Makassar sehingga terbentuk pemukiman yang beragama Islam di sepanjang pesisir Manado. Ditinjau dari daerah asal Islam, khasanah Islam di Manado diperkaya oleh Islam para buangan politik sejak tahun 1790 dari Bantam-Serang, tahun 1805 dari Padang, tahun 1818 dari Palembang, 1823 atau 1825 dari Bonjol, tahun 1830 dari jawa Tengah, 1880 dari Palembang serta tahun 1888 dari Cilegon Jawa Barat.
            Dapatlah dimengerti kalau Islam dan patriotisme telah ditransfer oleh para pejuang ini kepada masyarakat Islam khususnya dan masyarakat Sulawesi Utara pada umumnya. Proses ini dipermudah oleh terjadinya kawin-mawin diantara para pejuang ataupun keturunan mereka dengan putri-putri Minahasa yang beragama Kristen. Adalah keliru apabila ada yang mengatakan bahwa pada waktu daerah Manado dan Minahasa bersentuhan dengan Islam, penduduk Manado-Minahasa masih belum beragama; mereka telah menganut agama Ktristen yang diperkenalkan oleh pendatang dari Eropa terutama bangsa Belanda.

Pendidikan dan Perkembangan Pelajaran Islam
            Manado mengenal pendidikan dan pelajaran Islam secara klasikal dimulai pada permulaan memasuki abad XX. Dalam kegiatan ini pejuang asal Jawa Barat-Cirebon, K.H.Mohd Arsyad Thawil, sangat berperan, setelah beliau diminta oleh pendiri Madrasah Mursyidil Lawlad, Sayyid Hasan Molahele untuk mengajar dan memimpin lembaga pendidikan ini.
            Dari 94 pejuang pemberontakan Cirebon Jawa Barat, 26 pejuang dibuang ke Sulawesi Utara dengan perincian sebagai berikut:
Dibuang ke Tondano…………………. 4 (empat) orang
Dibuang ke Gorontalo…………………6 (enam) orang
Dibuang ke Kema…………………….. 4 (empat) orang
Dibuang ke Manado……………….12 (dua belas) orang

Mereka dibuang pada tahun 1888. Para pejuang ini terdiri dari berbagai profesi, diantaranya: guru agama, pedagang dan petani.
            Setiap pejuang ini memberikan andil yang cukup berarti bagi masyarakat setempat, sesuai keahlian mereka masing-masing. Tetapi sumbangan mereka secara bersama ialah memperkenalkan Islam sebagai agama Jihad menghadapi penjajah Belanda. Penghayatan Islam sebagai ideologi  semakin memasyarakat. Sedangkan partisipasi yang diberikan oleh KH. Mohamad Arsyad Thawil, sangat bermakna dalam pendidikan dan pelajaran Islam dalam bentuk dakwah, Pendidikan non Formal sampai ke pendididkan klasikal.

Profil  KH. Mohammad Arsyad Thawil 
            Karena kedudukannya sebagai seorang guru agama dan sebagai ulama, maka dari kelompok pejuang Cilegon-Banten ini, akan kami khususkan dalam penulisan sejarah masuknya Islam dan perkembangannya di Manado.
            Lahir di Banten-Jawa Barat di desa Tnara pada tanggal 5 Sya’ban 1270 H/1851 M. Sejak umur 14 tahun beliau telah merantau ke Jawa Timur untuk belajar ilmu-ilmu agama. Beliau belajar di Madura sampai ke Bima (Nusa Tenggara). Dari Bima, bersama guru-gurunya menuju ke Mekah untuk berhaji dan tiba di Mekah pada tahun 1285 H atau 1867 M. Menetap selama 5 tahun di Mekkah untuk menuntut ilmu agama dan kembali ke Banten karena ayahnya, Imam As’ad meninggal dunia.
            Setelah 3 tahun di Banten, beliau kembali ke Makkah, tahun 1875 untuk melanjutkan pendidikannya. Beliau menikah dengan wanita di Makkah untuk memperoleh banyak keturunan. Untuk menghidupi keluarga beliau melamar untuk menjadi Syech bagi para jama’ah haji, dan diterima oleh Raja di Makkah pada waktu itu. Karena ada dua orang yang bernama sama yaitu M.Arsyad maka beliau diberi gelar Thawil karena postur tubuhnya tinggi dibandingkan dengan M. Arsyad yang satu (yang kemudian mendapat gelar M. Arsyad Qosir).
            Karena kedudukannya sebagai Syech ini, maka banyak jama’ah Indonesia yang dikenal, bahkan langsung menjadi binaannya dalam urusan keagamaan. Faktor ini menjadi penting dalam perjalannya menjadi pemimpin umat di kemudian hari.         
            Beliau sempat bertemu dengan Prof. DR.Snouck Hugronye di konsulat Belanda di Jeddah pada waktu beliau mengurus paspor-paspor Jamaah Indonesia yang akan ke Jeddah, sedangkan Prof. DR.Snouck Hugronye adalah consul Belanda di Jeddah yang telah berganti nama menjadi Abdul Gaffar. Snouck Hugronye telah lama mendengar nama Mohammad Arsyad Thawil dan sangat berkeinginan untuk bertemu. Tampaknya pemerintah Belanda telah menandai bahwa Mohammad Arsyad Thawil memiliki ciri-ciri pemimpin yang dapat membahayakan Kolonial Belanda, dan pertemuan ini terjadi di dalam tahun 1885, tiga tahun sebelum terjadi pemberontakan Ciligon-Banten Jawa Barat. Beliau sempat menjadi guru agama dari Snouck Hugronye di bidang hukum Islam.
            Tahun 1886 beliau kembali ke Indonesia dan mulai mengadakan pendekatan-pendekatan dengan para ulama Banten. Di bawah koordinasi Haji Wasid, tokoh terkemuka dari ulama Banten, terjadi gerakan pemberontakan Cilegon tahun 1888.
            Dapat dimengerti bagaimana pengaruh K.H. Mohd. Arsyad Thawil yang ulama dan patriot ini terhadap perkembangan Islam di Manado sampai ke Minahasa. Dalam pembuangannya, beliau lebih dahulu ditahan di Penjara Manado sebelum ke Kema, Tonsea/Raprap. Di Penjara Manado beliau bertemu dengan seorang asal Gorontalo yang bernama Ahmadi dengan panggilan sehari-hari Tete Toki. Dari Tete Toki ini beliau mendapat ketererangan bahwa di Manado ada masyarakat Islam, dan telah terdapat pemukiman-pemukiman masyarakat Islam, seperti Kampung Komo, Kampung Banjer, Kampung Islam, Kampung Arab dan Kampung Ketang. Pemindahan beliau ke Airmadidi/Raprap, di suatu tempat yang terpencil agar tidak membahayakan kepentingan Penjajah Belanda. Dari tempat ini, yang lebih tepat dikatakan hutan, beliau diwajibkan untuk setiap hari melapor ke Gemeente Manado. Pada tahun 1890 beliau menikah dengan putri Minahasa yang beragama Kristen, yang setelah memeluk agama Islam, belajar seluk beluk Islam dari beliau dan putri Minahasa yang bernama Leena Runtu ini (keturunan Dotu Runtu). Perkawinan ini menjadikan K.H. Mohd. Arsyad menjadi akrab dengan masyarakat Kristen sekitarnya. Pengasingan ini berlangsung selama delapan tahun yang disertai dengan lapor diri setiap hari kerja.
            Sekitar tahun 1887 atau 1900 beliau pindah ke Manado, dan karena sebelumnya beliau telah dikenal oleh masyarakat Islam Manado, maka perpindahannya ke Manado mendapat sambutan yang menggembirakan dari masyarakat Manado. Beliau tidak pernah istirahat dari berdakwah dan mengajar. Beliau bermukim di Kampung Arab, yang kemudian oleh pendiri Madrasah Diniyah, “Mursyidi Laulad”, Sayyid Hasan Molahela dipercayakan untuk mengajar sampai memimpin madrasah ini.
            Melalui Besluit 15 Juli 1912, beliau dilantik menjadi Hoofd Penghulu Landraad Manado bersama Tuan Tjukur Towijoyo. Disamping kegiatan yang bersifat keagamaan seperti dakwah, pendidikan Islam dan pembangunan rumah-rumah Ibadah, beliau juga berkepedulian terhadap urusan-urusan sosial kemasyarakatan lainnya dengan mendirikan Koperasi Syarikat Dagang Islam yang bernama “Soeji Ideep” (Koperasi Hidup), pada tahun 1914, dan beliau berkedudukan sebagai Ketua. Pada tanggal 20 Pebruari 1916 beliau mendirikan organisasi “Damai Sentosa” di Kampung Kodo, Lawangirung, dimana beliau juga sebagai Ketua. Badan ini berfungsi sebagai lembaga penopang segala sesuatu yang menyangkut kepentingan umat Islam di Kampung Kodo dan sekitarnya, terutama dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Dan sebagai hasil pertama dari organisasi ini, “Damai Sentosa”, diusahakannya sebidang tanah untuk masjid bagi masyarakat Kampung Kodo yang deberi oleh Gemeente yang oleh masyarakat dibangunlah sebuah masjid yang bernama “AWABIN”.
            Dengan besluit dari Asisten Residen Van Dongen, atas nama pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1918, beliau diizinkan untuk kembali kenegeri asalnya, Banten. Beliau gunakan kesempatan ini, dan setelah setahun di Banten, beliau kembali lagi ke Manado.
            Pada tahun 1923 beliau bertemu dengan H.O.S.Tjokroaminoto dalam rangka H.O.S. Tjokroaminoto menghadiri Kongres Syarikat Islam (S.I) Celebes II di Manado, dalam bulan Agustus 1923. Kongres ini dipimpin langsung oleh H.O.S. Tjokroaminoto. Setelah banyak berembuk dengan H.O.S.Tjokroaminoto, beliau diangkat menjadi Adviseur (penasehat) dari Hoofd Bestuur Locaal Syarikat Islam Djamiatul Iman Manado.
            Tahun 1924 beliau membangun sebuah Surau di Kampung Komo. Surau ini, sekaligus menjadi pusat pelaksanaan pendidikan Islam bagi masyarakat Manado.
            Kepeduliaanya terhadap kemaslahatan masyarakat begitu tinggi, sehingga Kampung Komo (Komo luar) yang sering dilanda banjir, diusulkan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk memberikan fasilitas kepada masyarakat Komo luar untuk pindah ke lokasi yang sedang digarap oleh pemerintah sebagai perkampungan di Kumeraka. Pada tahun 1932, mulai terjadi pemindahan sebagian dari masyarakat Komo Luar ke Lokasi baru, Kumeraka.
            Beliau juga mengadakan kontak dengan para politisi yang berkunjung ke Manado, diantaranya Mr. Iskak, Pemimpin Partai Indonesia (PI). Kontak yang sifatnya politis ini mulai terjadi dalam tahun 1931.
            Tepat pada tanggal 17 Maret 1934, beliau berpulang ke rahmatullah, dirumah cucunya di Kampung Kumeraka, dalam usia 83 tahun dan dikebumikan di pekuburan Lawangirung, berdampingan dengan makam R.M.Suriongodilogo, dari susuhunan Keraton Solo.
            Jepang membangun sebuah pusat pemancar radio di Kampung Kumeraka, pada tahun 1943.  Serangan sekutu menghancurkan Kampung Kumeraka karena Pusat Stasiun Radio ini. Rakyat berpencar ke hutan-hutan di sekitarnya, dan pada waktu Jepang bertekuk lutut pada tahun 1945, rakyat keluar dari pengungsiannya tetapi sudah sulit untuk kembali ke Kampung Kumeraka karena Kampung ini telah berantakan, termasuk Masjid yang dibangun oleh masyarakat pada 10 tahun yang lalu. Mereka lalu kembali ke kampung asalnya, yaitu Komo Luar. Di Komo Luar ini, pada tahun 1945 – 1951, mereka membangun sebuah Masjid yang diberi nama Masjid K.H. Mohammad Arsyad Thawil, seperti yang dapat kita saksikan pada hari ini, setelah mengalami beberapa renovasi dan peningkatan pembangunan.
            Sampai dengan pecahnya perang dunia II, terdapat beberapa Madrasah di Kota Manado, diantaranya di Kampung Arab dan Kampung Islam.
            Kita saksikan bahwa perguruan-perguruan Islam seperti Muhammadiyah dan Cokroaminoto, lebih banyak memusatkan perhatiannya pada sekolah-sekolah umum, sebagai imbangan terhadap Misi dan Sending yang bertebaran di seluruh pelosok Manado. Karenanya, maka perhatiannya terhadap Madrasah-madrasah yang Diniyyah, hampir tidak terlihat. Nanti sejak Lembaga Pendidikan Islam Alkhaeraat memasuki Sulawesi Utara pada pertengahan abad ke-20 ini, barulah tumbuh Madrasah-madrasah Diniyyah. Tahun 1948 berdiri Madrasah Alkhaeraat yang pertama di Girian Bawah, Minahasa. Tahun 1949 Madrasah pertama di Bolaang Mongondow, di Jambusarang Bolang Itang. Sebelumnya, Madrasah Alkhaeraat juga telah didirikan di Kabupaten Gorontalo, di desa Lemito (Popayato). Hari ini ratusan Madrasah Alkhaeraat  dalam berbagai tingkatan pendidikan telah tersebar ke seluruh pelosok Sulawesi Utara.
            Di Kotamadya Manado hari ini, terdapat 22 (dua puluh dua) Madrasah dan sekolah Alkhaeraat, yang terdiri dari :
14 Madrasah Ibtidaiyyah
  2 Madrasah Tsanawiyyah
  1 Madrasah Aliyyah
  1 Madrasah Muallimin
  1 Taman Kanak-kanak
  1 Sekolah Dasar
  1 Sekolah Menengah Pertama
  1 Sekolah Menengah Umum
            Tingkat Tsanawiyyah dan Aliyyah dalam lingkungan Pesantren yang berkedudukan di Komo Luar dan Mapanget. Pesantren Putra Pondok Karya, Pesantren Putri Assalam, Pesantren Istiqomah serta sebuah Madrasah Aliyah Negeri (ex. PGU Negeri) dan sebuah Madrasah Tsanawiyah Negeri, disamping Perguruan Tinggi Agama (ex. IAIN/IAIS), turut memperkaya perkembangan hazanah  pendidikan Islam Kotamadya Manado. Untuk kepentingan masa depan Islam, aspek pendidikan inilah sesungguhnya yang harus dijadikan titik sentral pengembangan kualitas ummat.
Islam di Sangihe Talaud
            Oleh Adhan Bawenti (1998), staf Depag Kabupaten Sangihe Talaud menuliskan tentang Islam di Sangihe Talaud dengan lebih dahulu menggambarkan konteks pra Islam. Ia menuliskan bahwa menurut legenda atau pendapat umum dalam masyarakat, Sangihe berasal dari kata “Sangi” yang berarti menangis, mendapat tambahan/akhiran “he” yang menjelaskan tentang keadaan menangis  ( menangis terisak-isak).
            Sedangkan kata “Talaud” berasal dari kata “ melaude” yang berarti  jauh kelaut mendapat awalan “Ta” menjadi  “ Tamalaude” (Talaud) yang menggambar kan jarak yang tidak terlalu jauh.
            Berdasarkan pengertian diatas, Sangihe Talaud dapat diartikan sebagai tempat/pulau yang terpisah-pisah yang jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi keterpisahan itu dapat menimbulkan rasa sedih (Sangi) antara penduduknya.
            Menurut asal usul kata (etimologis): (1) Sangihe berasal dari akar kata “sang “ ditambah “ihe” sama dengan “Sang “ ditambah “Ir” menjadi “Sang-Air”  atau disebut Sangir yang berarti pulau yang dikelilingi air besar/laut. (2). Talaud berasal dari kata “Tau” ditambah “Led” sama dengan “Tau” ditambah “Laud” menjadi Talaud yang berarti Samundra.
            Secara Terminologis, penamaan kepulauan Sangihe dan kepulauan Talaud menjadi Sangihe dan Talaud terjadi pada abad ke 18, sesudah kepulauan Talaud dijajah/ditemukan Belanda.

Share to

Facebook Google+ Twitter Digg

0 komentar:

Poskan Komentar

SILAHKAN DI KUNJUNGI

Ngga punya Pulsa?? silahkan sms gratis disini

ACP

ACP
MAAF... SILAHKAN HUBUNGI ADMIN