27 Mei 2013




Para pakar dunia kini sedang memusatkan kembali perhatian mereka pada perkembangan budaya Islam. Mereka mengedepankan kembali peran budaya Islam dan pengaruhnya terhadap aspek budaya serta kehidupan budaya modern saat ini. Warisan itu mencakup hampir seluruh kehidupan manusia, mulai dari masalah sosial, politik, ilmu pengetahuan, kesehatan, arsitektur dan sebagainya.

Sudah banyak literatur yang menguraikan dengan lengkap kontribusi Islam dalam berbagai aspek tersebut. Literatur ini bukan hanya menjadi sumber acuan yang penting untuk mengetahui bahwa Islam bisa dikatakan sebagai pelopor kemajuan di berbagai bidang disiplin ilmu, meski ada sebagiannya yang diklaim sebagai hasil pemikiran barat.
Seiring dengan perkembangan zaman dan makin menguatnya gejala untuk untuk mengesampingkan dunia Islam, munculnya perhatian para cendikiawan Islam maupun barat terhadap budaya Islam di masa lalu menjadi angin segar untuk menampilkan kembali budaya Islam yang agung ditengah keterpurukan umat Islam di berbagai belahan dunia saat ini.
Islam Memberikan Kontribusi Besar Terhadap Kemajuan Peradaban Barat
Kemajuan ilmu pengetahuan yang didominasi dunia barat saat ini menimbulkan kesan bahwa memang peradaban mereka sejak dulu memang sudah maju. Fakta bahwa dunia Islam lah yang lebih dulu mengembangkan berbagai cabang ilmu, seakan ditampikkan. Hal ini tersirat dalam presentasi mantan Direktur Pusat Studi Islam dan Demokrasi Tamara Sonn belum lama ini di Universitas John Hopkins, AS.
Dalam presentasinya Sonn mengungkapkan keyakinanya bahwa budaya barat merupakan percampuran antara budaya-budaya yang ada di seluruh dunia, dan dunia Islam telah memberikan kontribusi yang besar bagi budaya Eropa dalam bidang ilmu pengetahuan dan kedokteran.
“Dunia Islam membentang dari Spanyol sampai ke China, dan Baghdad menjadi pusat peradaban pada saat itu,” kata Sonn. Sonn mengatakan, kekuatan besar dan kekayaan dunia Islam saat ini mungkin meredup, tapi tidak dengan warisan intelektualnya terutama di bidang ilmu pengetahuan, seperti ilmu matematika, bahasa, arsitek dan bahkan masalah kemanusiaan.
Kontribusi dunia Islam yang paling penting dan nyata dalam ilmu pengetahuan kata Sonn, antara lain obat-obatan, studi tentang penyakit, ilmu bedah, kimia, terapi obat, ilmu navigasi dan ilmu astrologi. Kontribusi yang tak kalah pentingnya adalah bilangan dalam dalam bahasa Arab yang menggantikan bilangan Romawi, menambah majunya bidang ilmu matematika terutama ilmu aljabar dan trigonometri.
Di bidang kemanusiaan, para cendikiawan Muslim menyumbangkan pemikirannya tentang siklus kekuasaan dalam kaitan dengan kemunculan dan lenyapnya sebuah bangsa. Warisan Islam lainnya yang penting antara lain terjemahan manuskrip-manuskrip dalam bahasa Yunani kuno dan bahasa Latin ke dalam bahasa Arab. Di bidang seni arsitektur, Sonn menunjuk sejumlah mesjid besar yang di bangun di negara-negara Islam dengan model disain dan arsitketurnya yang indah, contohnya bangunan Taj Mahal di India.
“Semuanya itu merupakan produk dari pemikiran intelektual yang dilakukan untuk memenuhi kewajiban umat Islam pada Tuhannya." Sonn bahkan menyebutnya sebagai salah satu model jihad yang dikenal dalam agama Islam.
Melihat fakta-fakta yang ada, Sonn menegaskan bahwa warisan budaya Islam di masa lampau tidak sesederhana yang dibayangkan dan sangat bersifat pluralistik. Sifat pluralistik inilah yang menurut Sonn warisan yang paling berharga yang disumbangkan dunia Islam pada perkembangan zaman seperti sekarang ini. Sonn menyatakan ketidaksetujuannya terhadap teori global Huntington yang menguraikan tentang adanya konflik budaya.
Sonn berargumentasi, perbedaan yang disebabkan oleh etnisitas, identitas agama dan ras harus diakhiri. ”Kita harus mendefinisikannya kembali dengan mengakui kesalahan dan melakukan rekonsiliasi. Kita harus menghilangkankan pagar penghalang yang hanya menimbulkan ketakutan dan berdampak pada sikap saling membenci,” ujarnya.
Namun argumentasi Sonn dinilai kontroversial oleh Dosen senior di universitas John Hopkins, Hyder Syed. Ia masih mempertanyakan soal konflik antar peradaban, khususnya antara dunia Islam dan Barat.

Pembentukan Jaringan Pakar dan Musium Seni Islam Dunia
Minat masyarakat barat untuk mengedepankan kembali tentang kebesaran warisan budaya Islam, tidak hanya berhenti dalambentuk presentasi para pakar yang memang mendalami budaya Islam. Para cendikiawan Muslim dan barat serta pengelola Musium Nasional dari 15 negara, sedang memikirkan untuk membuat sebuah link untuk menggali lebih jauh tentang budaya dan seni Islam dari waktu ke waktu termasuk membentuk sebuah musium sentral yang memiliki link ke 17 musium terkemuka di dunia.
Pembentukan link ini, untuk mempermudah masyarakat dunia yang ingin mengetahui peninggalan-peninggalan Islam yang tersimpan di musium di berbagai negara, termasuk mempelajari sejarahnya. “Seorang pengunjung di Istana Hisham dekat Jericho akan bisa mengakses musium-musium penting dan melihat koleksi musium tersebut yang saat ini, misalnya sedang dipamerkan di British National musium. Begitu pula sebaliknya, pengunjung di Musium Nasional di Inggris bisa mengakses ke musium Istana Hisham,” ujar Sa’d Nimr, kordinator proyek asal Palestina.
Para pakar memang mempertanyakan proyek pembentukan link tersebut. Perspektif apa yang mereka gunakan untuk mewakili fakta sejarah yang ada. Mereka berpendapat, proyek semacam ini akan menemui kegagalan karena adanya beda pandangan dari sisi pandang ‘barat’ dan ‘timur’.
Namun kekhawatiran itu dijawab oleh Eva Schubert pendiri dan presiden “Museum with no Frontiers” (MWNF). Schubert optimis tujuan dasar dari pembentukan link tersebut unntuk mengedepankan sejarah khususnya budaya dan sejarah Islam berdasarkan perspektif lokal. Mungkin agak sulit kalau dalam kerangkan musium, karena bukan hanya sisi pandang lokal yang harus bisa diekspresikan dalam proyek tersebut.
Pendek kata, kata Schubert, bisa saja terjadi perbedaan pandangan dan itulah yang akan menjadi pusat perhatian kami untuk lebih menggali seni dan budaya Islam
“Ketika kita mendiskusikan sesuatu yang berkenaan dengan Portugal, Spanyol dan Maroko misalnya, wajar bila kita menjelaskan fenomena sejarah dari sisi pandang orang portugis, spanyol dan maroko. Dan tentu saja penekanannya berbeda-beda. Ini yang menjadi inti dari proyek kami,” ujar Schubert.
Proyek ini juga diharapkan bisa membantu untuk mendorong kemunculan profil dari benda-benda seni Islam yang dimiliki oleh musium-musium yang masuk dalam link dan membantu para cendikiawan untuk mengakses objek-objek tersebut. Proyek ini akan menjadi wadah kerjasama antara para pakar dan pihak musium dan menjadi forum tukar menukar hasil riset dan penemuan baru dibidang seni dan budaya Islam.
Ulrike Al-Khamis, kurator dari musium nasional Skotlandia menyatakan, keberadaan musium menekankan pada pentingnya aspek budaya dan pandangan-pandangan yang berkaitan dengan penghargaan atas karya seni. Bagaimanapun juga, proyek semacam ini kata Al-Khamis memberikan kesempatan baru untuk memperluas wawasan dalam bidang pendidikan dan budaya, dan otomatis dalam bidang sosial dan bahkan mungkin politik dari perspektif Islam.

Share to

Facebook Google+ Twitter Digg
Next
Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

1 komentar:

SILAHKAN DI KUNJUNGI

ACP

ACP
MAAF... SILAHKAN HUBUNGI ADMIN